Temaram
kehidupan berserakan dia atas lembaran takdir. Siapa yang tau esok adalah hari
terakhir bagiku untuk dapat berbincang dengannya. Sosoknya membuat jiwa siapa
saja merasa terbakar. Karena aku tau, dialah sang mentari, tak hanya di
kehidupanku tapi juga di kehidupan orang lain.
Di saat aku merasa
terhempiskan oleh peliknya kehidupan, dia datang membawa secercah harapan yang
diselingi doa untukku. Embun terlalu lambat untuk memergoki dia tidur, terlalu
dini ia terbangun untuk beradu cinta dengan Sang Maha Penyayang. Fajar yang
menyingsing cahaya tak ubahnya bagai pancaran dirinya.
Mentariku…
tapi mengapa ia tergenang di tepi danau? Begini, aku takut mentariku terlalu
tinggi dan panas, maka aku ingin dia di dekat danau. Selain agar aku dapat
menjangkaunya, agar ia juga dapat menjadi apa yang kuinginkan… yaitu rendah
hati dan ramah seperti air yang menyejukkan raga.
Mentari yang
tergenang, tetaplah bersinar sehangat cahaya lilin, dan bertawadhu’ selembut
sutera dipintal mesin pemintal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar