Selasa, 18 Februari 2014

Mentari yang Tergenang



Temaram kehidupan berserakan dia atas lembaran takdir. Siapa yang tau esok adalah hari terakhir bagiku untuk dapat berbincang dengannya. Sosoknya membuat jiwa siapa saja merasa terbakar. Karena aku tau, dialah sang mentari, tak hanya di kehidupanku tapi juga di kehidupan orang lain.
Di saat aku merasa terhempiskan oleh peliknya kehidupan, dia datang membawa secercah harapan yang diselingi doa untukku. Embun terlalu lambat untuk memergoki dia tidur, terlalu dini ia terbangun untuk beradu cinta dengan Sang Maha Penyayang. Fajar yang menyingsing cahaya tak ubahnya bagai pancaran dirinya.
Mentariku… tapi mengapa ia tergenang di tepi danau? Begini, aku takut mentariku terlalu tinggi dan panas, maka aku ingin dia di dekat danau. Selain agar aku dapat menjangkaunya, agar ia juga dapat menjadi apa yang kuinginkan… yaitu rendah hati dan ramah seperti air yang menyejukkan raga.
Mentari yang tergenang, tetaplah bersinar sehangat cahaya lilin, dan bertawadhu’ selembut sutera dipintal mesin pemintal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar